Islam

DOA AGAR TERLINDUNG DARI PENYAKIT MENULAR

Posted on Updated on

Assalamualaikum, #OrangBaik! Semoga *selalu* berada *di dalam lindungan Allah Ta’ala ya.* Terlebih, di masa pandemi yang semakin buruk ini. 🙏🏼

Pada zaman Rasulullah SAW pun terjadi wabah penyakit. Sehingga, Rasulullah melarang umat Islam pada saat itu untuk berkerumun dan bepergian. Tujuannya satu: *Agar wabah tidak memburuk dan meluas.*👐🏻

Setelah berikhtiar untuk terus *mematuhi protokol kesehatan*, mari kita *berdoa kepada Allah Ta’ala* untuk dilindungi dari penyakit dan virus menular.👐🏻

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

_Allaahumma innii a’uudzu bika minal barashi wal junuuni wal judzaami wa sayyi il asqoom._

*”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan keburukan segala macam penyakit.”* (HR. Abu Dawud)

Mari kita ketuk pintu langit, *seraya memohon kepada Allah Ta’ala*, agar Kakak sekeluarga *dilindungi dari berbagai virus dan penyakit.*👐🏻

Aamiin, allahuma aamiin.

Sumber: Sidaq

Nahroni-Sri Murni Toiyibah, Berhaji dari Hasil Memulung Sampah

Posted on

Subhanallah… Ada artikel menarik, dicuplik dari jawapos.co.id. Mudah2an bisa diambil hikmahnya. Check this out….

————–

Menabung Sejak 1993, Berangkatnya Diam-Diam

Beban batin yang berkecamuk membuat Nahroni memutuskan pensiun dini dari profesinya sebagai guru sekolah dasar pada 2005. Berganti pekerjaan sebagai pemulung. Siapa sangka pekerjaan yang dianggap rendah itu justru mengantar dia dan istrinya menjadi tamu Allah.

SRI UTAMI, Kediri

———————————–

Tak ada yang mencolok dari rumah Nahroni. Rumah yang berada di Dusun Tegalan, Desa Doko, Kecamatan Gampengrejo itu tak seperti halnya rumah orang yang baru pulang dari tanah suci. Tak ada tenda terpasang di beranda. Apalagi tanda ucapan selamat datang yang biasanya terpampang di rumah orang yang baru saja pulang haji. Hanya keberadaan beberapa kendaraan di halaman yang menandakan sang empunya rumah sedang banyak tamu.

Rumah Nahroni juga sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lantai rumahnya juga belum diplester. Hanya dari tanah. Bagian atas rumah juga tidak ditutupi langit-langit. Bila menatap ke atas mata akan langsung melihat deretan kayu dan genting.

Di dinding bambu itu terpasang kalender dari beberapa pesantren. Juga tulisan kaligrafi berlafal Allah dan Muhammad.

Kemarin, ruang tamu berlantai tanah yang hanya berukuran 4 x 6 meter tergelar karpet warna hijau. Jadi tempat para tamu duduk.

Di hamparan karpet tersebut ada berbagai jenis makanan yang dihidangkan. Mulai dodol, kerupuk, kacang goreng, keripik pisang, belimbing, dan berbagai jenis makanan lainnya. Ada pula makanan khas orang yang baru pulang haji, kurma, serta air zamzam. “Saya hanya bawa oleh-oleh ini dan air. Silakan dimakan,” kata Nahroni sambil menyodorkan kurma pada Radar Kediri.

Berbeda dengan ratusan jamaah haji asal Kabupaten Kediri lainnya, keberangkatan Nahroni dan Murni, istrinya, tergolong nekat. Jika jamaah lain membawa banyak uang saku, keduanya hanya mengandalkan sisa dana haji yang nilainya 1.500 real. Dengan uang saku yang sedikit itu membuat Nahroni hanya bisa membawa oleh-oleh yang terbatas. Kurma dan air zamzam. Baca entri selengkapnya »