Nahroni-Sri Murni Toiyibah, Berhaji dari Hasil Memulung Sampah

Posted on

Subhanallah… Ada artikel menarik, dicuplik dari jawapos.co.id. Mudah2an bisa diambil hikmahnya. Check this out….

————–

Menabung Sejak 1993, Berangkatnya Diam-Diam

Beban batin yang berkecamuk membuat Nahroni memutuskan pensiun dini dari profesinya sebagai guru sekolah dasar pada 2005. Berganti pekerjaan sebagai pemulung. Siapa sangka pekerjaan yang dianggap rendah itu justru mengantar dia dan istrinya menjadi tamu Allah.

SRI UTAMI, Kediri

———————————–

Tak ada yang mencolok dari rumah Nahroni. Rumah yang berada di Dusun Tegalan, Desa Doko, Kecamatan Gampengrejo itu tak seperti halnya rumah orang yang baru pulang dari tanah suci. Tak ada tenda terpasang di beranda. Apalagi tanda ucapan selamat datang yang biasanya terpampang di rumah orang yang baru saja pulang haji. Hanya keberadaan beberapa kendaraan di halaman yang menandakan sang empunya rumah sedang banyak tamu.

Rumah Nahroni juga sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Lantai rumahnya juga belum diplester. Hanya dari tanah. Bagian atas rumah juga tidak ditutupi langit-langit. Bila menatap ke atas mata akan langsung melihat deretan kayu dan genting.

Di dinding bambu itu terpasang kalender dari beberapa pesantren. Juga tulisan kaligrafi berlafal Allah dan Muhammad.

Kemarin, ruang tamu berlantai tanah yang hanya berukuran 4 x 6 meter tergelar karpet warna hijau. Jadi tempat para tamu duduk.

Di hamparan karpet tersebut ada berbagai jenis makanan yang dihidangkan. Mulai dodol, kerupuk, kacang goreng, keripik pisang, belimbing, dan berbagai jenis makanan lainnya. Ada pula makanan khas orang yang baru pulang haji, kurma, serta air zamzam. “Saya hanya bawa oleh-oleh ini dan air. Silakan dimakan,” kata Nahroni sambil menyodorkan kurma pada Radar Kediri.

Berbeda dengan ratusan jamaah haji asal Kabupaten Kediri lainnya, keberangkatan Nahroni dan Murni, istrinya, tergolong nekat. Jika jamaah lain membawa banyak uang saku, keduanya hanya mengandalkan sisa dana haji yang nilainya 1.500 real. Dengan uang saku yang sedikit itu membuat Nahroni hanya bisa membawa oleh-oleh yang terbatas. Kurma dan air zamzam.

Meskipun uang sakunya sedikit, Nahroni mengaku masih berkecukupan selama menunaikan ibadah haji di tanah suci. Bahkan, dia masih punya sisa berupa uang real. Yang setelah ditukar dengan rupiah nilainya masih ratusan ribu.

Bagaimana pasangan suami-istri yang bekerja sebagai pemulung ini bisa menunaikan ibadah haji bersamaan? Pria yang akrab disapa Roni ini lantas tersenyum sebelum bertutur. Menurut Roni, dia bisa menunaikan ibadah haji bersama istrinya setelah menabung haji selama puluhan tahun. Mulai 1993 lalu. “Ya ada sisa (pendapatan) sedikit-sedikit langsung kami tabung,” kata pria berusia 55 tahun ini.

Sebenarnya, setelah lulus sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) pada 1978 Nahroni menekuni profesi guru SD sejak 1982. Tapi, setelah mengabdikan diri selama 23 tahun, dia memutuskan pensiun dini pada 2005 lalu. Nahroni mengaku tidak kuat melihat tingkah laku muridnya yang sudah tercemar oleh pergaulan bebas.

Suatu kali, saat dirinya sedang mengajar, dia mendapati seorang murid perempuannya membawa novel porno. Melihat hal itu, nuraninya berkecamuk. Tak berapa lama, setelah merasa tidak kuat dengan lingkungan dia memutuskan untuk pensiun di usia 51 tahun. Sejak itulah Nahroni dan istrinya, yang sudah menjadi pemulung sejak 2001, mengandalkan hidupnya dengan mengumpulkan barang-barang bekas.

Berbeda dengan pemulung kebanyakan, Nahroni dan Murni tidak melakukannya dengan berkeliling ke perumahan-perumahan. Melainkan hanya memulung di tempat pembuangan sampah sementara, yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya.

Begitu gerobak-gerobak sampah tiba, Nahroni dan istrinya memilah sampah plastik yang masih bisa dijual. Pekerjaan itu dilakukan mulai pagi hingga sore. Sebelum sampah yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya itu diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hasil pengumpulan sampah juga tidak langsung dijual tiap hari. Melainkan menunggu menumpuk sebulan sekali. “Rata-rata kami mendapat hasil penjualan Rp 500 sampai Rp 600 ribu (per bulan),” terang Roni.

Dari hasil memulung itulah Nahroni menghidupi keluarga dan delapan anaknya. Beban rumah tangganya menjadi ringan karena tiga anaknya sudah bekerja. Sedangkan lima anaknya yang lain tinggal di pesantren yang ada di Pare. Praktis, di rumah tersebut Nahroni hanya tinggal bersama Murni. Untuk biaya makan, keduanya tak sampai menghabiskan beras setengah kilogram sehari. Dari sanalah penghasilan mereka, yang relatif kecil, bisa terkumpul untuk menunaikan ibadah haji.

Merekapun semakin bersyukur ketika menjelang keberangkatan haji November lalu, seakan mendapat kemudahan dari Allah. Jika biasanya hanya mendapat Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu sebulan, pada Oktober dan November mereka bisa mendapat sampai Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu. Dari sanalah tabungan keduanya yang memang sudah hampir mencukupi, langsung tertutupi untuk modal berangkat.

Seolah tidak mau pamer dengan tetangga sekitar, Roni dan Murni sengaja berangkat haji dari rumah orang tuanya di Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih. Sehari sebelum berangkat, 27 November 2008 lalu, Roni dan Murni meninggalkan rumahnya dan memutuskan berangkat dari rumah orang tuanya tersebut. “Saya tidak mau pamer. Nanti malah mengurangi pahala,” dalihnya.

Meskipun berusaha disembunyikan, tak urung orang di sekeliling rumahnya langsung mengetahui keberangkatan haji keduanya. Makanya, begitu mereka pulang Selasa (6/1) kemarin, rumah mereka yang berada di gang sempit Desa Doko, langsung dipenuhi tetangga.

Saking banyaknya tamu yang datang, keduanya baru ingat kalau dua tas mereka tertinggal di masjid pemkab Kediri. Rupanya setelah ditinggal salat maghrib, keduanya lupa mengambil. Pukul 00.00 kemarin Roni berusaha mengambil di pemkab. Tetapi ternyata tasnya sudah diamankan di Depag Kabupaten Kediri. “Tasnya baru diambil tadi pagi (kemarin pagi, Red),” sambung Murni yang sejak awal lebih banyak diam.

Lalu, apa keinginan keduanya setelah berhasil menunaikan haji bersama? Seakan kompak, Roni dan Murni mengaku hanya ingin lebih giat beribadah untuk bekal akhirat. Juga mendampingi putra-putrinya yang sekarang beranjak dewasa. Mereka tidak mau anak-anaknya terkena pengaruh pergaulan bebas yang sangat berbahaya. Karena itupula, delapan anaknya menempuh pendidikan di pesantren.(fud)

12 thoughts on “Nahroni-Sri Murni Toiyibah, Berhaji dari Hasil Memulung Sampah

    omiyan said:
    8 Januari 2009 pukul 11:57 am

    semua karena niat, bila sesuatu diniatin Insya Allah akan terlaksana

    wi3nd said:
    8 Januari 2009 pukul 2:31 pm

    subhanalloh yaa..

    jadi tersindir ju9a neeh dam..:(

    Ardy Pratama said:
    8 Januari 2009 pukul 2:53 pm

    Subhanallah… hrusnya kita bisa lbih giat brbadah dan lbih sring brsyukur…

    nA said:
    8 Januari 2009 pukul 10:50 pm

    anaknya 8 yaa??? wuihhh gimana ribetnya seisi rumah tuhh.. ck ck ck ck…

    tapiii saluttttttttttt akan niatan yang SUBHANALLAH.. bikin mendongkrak semangat untuk mengunjungi rumah Allah dalam kondisi apapun

    yup… we have to

    siwi said:
    9 Januari 2009 pukul 6:43 pm

    Wah luar biasa yaa..
    Tapi kalo kita emang udah berniat, Allah pasti akan memudahkan dan memberi jalan😛

    Amiiin…🙂

    marshmallow said:
    9 Januari 2009 pukul 7:00 pm

    wah, inspiratif sekali ya, dam?
    banyak orang yang jauh lebih mampu secara finansial maupun fisik tetap merasa belum mampu melaksanakan ibadah haji. dan jelaslah bahwa rejeki Allah itu sangat adil.

    mudah-mudahan kita tak berlalai-lalai lagi. kamu juga jangan nunda-nunda lagi dong!

    iya.. mari.. budal bareng ta???🙂

    Shino said:
    23 Januari 2009 pukul 8:50 am

    subhanalloh..
    kalo emang udah kehendak Allah…semua juga bisa terwujud ya…
    (sekaligus cambukan buat gw…)

    Jabon said:
    14 Juli 2010 pukul 11:17 am

    Subhanallah, mudah2an saya bisa mengikuti jejaknya, dengan suatu usaha yang lain.

    Asrofi said:
    14 Juli 2010 pukul 11:17 am

    Mas Jabon usaha apa? huehueheheh

    Jabon said:
    14 Juli 2010 pukul 11:18 am

    @Asrofi
    Usaha pertanian mas, mohon doanya ya.
    Mudah2an kami bisa naik haji juga.
    amin

    oghello said:
    13 Maret 2011 pukul 11:44 pm

    mang rizki ntu datang dari langit dan bumi(tak disangka-sangka)

    tira soekardi said:
    20 Maret 2011 pukul 6:46 am

    segala pekerjaan kl dilakukan dg iklas krn Allah akan menjadi berkah…dan terbukti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s