Desa yang Hilang

Posted on Updated on

Liburan hari Sabtu kemaren tak sempetin pergi ke desa kelahiran mamiku, kelahiranku juga sih😆 . Disana aku dimintain tolong pasang internet di sekolah Madrasah tempat pamanku menjadi kepala sekolah. Awalnya niat untuk pasang internet mendapat tentangan dari beberapa orang. Hihihi alasannya lumayan menohok. “Internet itu porno”, gitu mereka bilang. Yah kudu sabar juga sih ngadepin mereka2. Mereka juga gak salah. Mereka takut anak-anak mereka terkontaminasi otak kotor gara-gara ‘kebebasan’ dunia maya. Mungkin dengan penerangan (emang lampu) bahwa internet itu ibaratnya barang yang sangat penting bagi dunia. Bila dipegang oleh orang jahat, maka barang ini jadi ikutan jahat. Tapi kalo dipegang oleh orang baik (salah satunya….), pastilah menjadi kebaikan. Yah gitu2 deh. Baca juga ulasan disana. Akhirnya dengan keyakinan untuk mencerdaskan anak bangsa, Pamanku tetap pada pendirian untuk memasang internet di sekolahnya.

desaku1
Dikejauhan tampak gunung Penanggungan. Dulu waktu SMA pernah nongkrong di puncaknya.

Setelah internet terkoneksi, dengan antusiasnya orang-orang itu tak tularin virus ngeblog. Hihihi biar tau rasanya kecanduan ngeblog👿 .

desaku4   desaku5

Oh iya, aqyu juga mo cerita dikit tentang desaku. Pertama kali nyampe di perbatasan desa, gue mampir dulu ke warung kopi di pinggir jalan dekat perbatasan desa. Kebetulan juga rumah keluarga besarku dekat2 situ. Pagi-pagi lumayan cari kehangatan dan melepas lelah, sambil melihat pemandangan alam yang masih sedikit sejuk. Kenapa sedikit sejuk? Soalnya sekarang desaku sepertinya agak aneh. Disepanjang jalan yang dulu banyak pohon2 rindang, sekarang dah hilang, panas, terkena pelebaran jalan, banyak pabrik2. Malahan dekat rumah nenekku berdiri pabrik yang lumayan gede dan suara mesinnya sangat mengganggu. Soalnya nyala 24 jam nonstop, gak peduli tanggal merah atau hari libur besar.

desaku2    desaku3

Wah sepertinya aku telah kehilangan memori masa kecilku. Desa yang dulu tenang dan adem ayem, sekarang sedikit panas dan bising. Tak seindah dulu lagi. Untunglah sawah-sawah masih menghijau. Jadi keindahannya masih membekas walau sedikit. Desaku yang dulu telah hilang….

2 thoughts on “Desa yang Hilang

    Budi Rahardjo said:
    25 Maret 2008 pukul 12:24 am

    Gimana ya agar desa tetap maju tetapi tetap dengan ciri khas desa yang adem ayem?

    agak susah juga pak. Sudah semakin tergilas oleh industrialisasi. Bagaimanapun orang desa juga butuh penghidupan yang lebih. Akhirnya tanah pun berpindah tangan ke orang2 kaya kota, dan jadilah pabrik2.
    Kecuali mungkin desa2 yang masih jarang terjamah tangan2 industri.

    Zulmasri said:
    25 Maret 2008 pukul 7:53 pm

    DI SUATU PAGI

    pertama kudatang, tanah ini masih
    menyisakan keharuman tubuh perempuan
    di tempat-tempat pemandian
    di sungai kecil
    yg masih saja mengalirkan bening
    air sepanjang peradaban

    pertama kudatang dan menetap
    simpang ini masih sepi
    masih bisa menghitung dua tiga teriakan
    dan deru lalu-lalang
    di bebatuan berserakan
    sepanjang perjalanan

    dan ini pagi, tiada lagi sepi
    kecuali tebaran asap dari kota mati
    meninggalkan kesunyian seorang pengembara
    pada beton dan tiang-tiang sepanjang jalan
    serta tak lagi menyisakan nyanyian pagi
    dan wanginya tubuh perempuan
    sebab sungai di belakang telah kering
    bercampur amis dan tubuh-tubuh
    tanpa nyawa

    Padang, 1994

    Tentang sesuatu yg hilang, saya lukiskan pada puisi (dimuat di Republika, 1994) dg perbandingan 4 tahun sebelumnya. Banyak yg berubah, keasrian, keindahan, dan alam yg natural hilang, dan saya merasa sendiri di keriuhan.

    Ok, sungguh cerita kenangan yg memilukan

    bener bang.. Dan kata2 bang zul emang top.. Keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s