Destiny

Posted on Updated on

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.

[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

Allah memang telah menetapkan semua peristiwa dari awal sampai akhir, siapa yang menghuni neraka dan siapa yang menghuni surga. Adapun kita manusia tidak ada yang tahu tentang hal itu. Itu adalah hak rahasia Allah. Adapun dalam masalah takdir kita berarti bicara dalam masalah kehendak atau Iradah Allah. Iradah Allah itu ada 2 yaitu Iradah kauniyah qadariyah dan Iradah syari’ah.
Apa itu?
Iradah Kauniyah qadariyah adalah segala sesuatu yang sudah dikehendaki oleh Allah. Ada yang dibenci dan ada yang disenangi. Misalnya adalah bahwa Fir’aun telah ditakdirkan untuk masuk neraka, gunung meletus, kiamat dan segala takdir di dunia ini.
Iradah Syar’iah atau bisa dikenal dengan Iradah Ammr, adalah kehendak Allah yang ada dalam setiap perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Allah telah memberitahu yang jelek dan yang buruk dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dan hamba diperkenankan untuk memilih menjadikan Al QUr’an dan As Sunnah sebagai petunjuk ataukah menolaknya. Jadi nanti ketika di hari akhir seorang hamba itu akan dimintai pertanggungan jawab. Dan Allah sama sekali tidak menganiaya hamba tersebut.

Jadi bukannya tidak usah sholat dan sebagainya. Takdir itu bisa berjalan karena sebab dan akibat. Tidak asal tidak berikhtiar. Karena tidak ada seorang pun tahu takdirnya. Tidak satupun makhluk tahu terhadap apa yang akan terjadi terhadap diri mereka. Karena mereka hanyalah makhluk. Kalau mereka tahu terhadap takdir niscaya mereka akan banyak diselamatkan oleh pengetahuan mereka tentang taqdir mereka. Nah, karena tidak tahu itulah manusia harus berikhtiar.

Kalau toh seseorang itu faham dan tahu tentang takdir kenapa mereka tidak berikhtiar? Aneh sekali. Sama seperti kasus ketika seorang pencuri tertangkap oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu. Lalu apa yang dikatakan pencuri itu?

“Saya melakukan ini karena taqdir wahai Amirul Mukminin”, kata si pencuri. Lalu apa jawab Umar? Umar menjawab, “Nah, karena itulah tanganmu dipotong juga karena takdir”.

Riwayat ini shahih.

Nah, karena itulah apabila seseorang telah faham terhadap dirinya jangan menyalahkan taqdir. Taqdir itu adalah kehendak Allah dan Allah maha Adil, Allah faham terhadap hamba-Nya. Dan manusia itu harus berikhtiar yang baik. Kalau memang kita faham dan tahu terhadap takdir kita, niscaya seseorang itu akan berikhtiar yang baik bukan berikhtiar yang jelek. Karena yang baik telah dijelaskan oleh Allah dan rasul-Nya di dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Wallahu’alam bishawab.

Sumber: Sahabat Exblopez – http://myquran.org/forum/index.php/topic,12897.0.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s