Liburan hari Sabtu kemaren tak sempetin pergi ke desa kelahiran mamiku, kelahiranku juga sih
. Disana aku dimintain tolong pasang internet di sekolah Madrasah tempat pamanku menjadi kepala sekolah. Awalnya niat untuk pasang internet mendapat tentangan dari beberapa orang. Hihihi alasannya lumayan menohok. “Internet itu porno”, gitu mereka bilang. Yah kudu sabar juga sih ngadepin mereka2. Mereka juga gak salah. Mereka takut anak-anak mereka terkontaminasi otak kotor gara-gara ‘kebebasan’ dunia maya. Mungkin dengan penerangan (emang lampu) bahwa internet itu ibaratnya barang yang sangat penting bagi dunia. Bila dipegang oleh orang jahat, maka barang ini jadi ikutan jahat. Tapi kalo dipegang oleh orang baik (salah satunya….), pastilah menjadi kebaikan. Yah gitu2 deh. Baca juga ulasan disana. Akhirnya dengan keyakinan untuk mencerdaskan anak bangsa, Pamanku tetap pada pendirian untuk memasang internet di sekolahnya.

Setelah internet terkoneksi, dengan antusiasnya orang-orang itu tak tularin virus ngeblog. Hihihi biar tau rasanya kecanduan ngeblog
.
Oh iya, aqyu juga mo cerita dikit tentang desaku. Pertama kali nyampe di perbatasan desa, gue mampir dulu ke warung kopi di pinggir jalan dekat perbatasan desa. Kebetulan juga rumah keluarga besarku dekat2 situ. Pagi-pagi lumayan cari kehangatan dan melepas lelah, sambil melihat pemandangan alam yang masih sedikit sejuk. Kenapa sedikit sejuk? Soalnya sekarang desaku sepertinya agak aneh. Disepanjang jalan yang dulu banyak pohon2 rindang, sekarang dah hilang, panas, terkena pelebaran jalan, banyak pabrik2. Malahan dekat rumah nenekku berdiri pabrik yang lumayan gede dan suara mesinnya sangat mengganggu. Soalnya nyala 24 jam nonstop, gak peduli tanggal merah atau hari libur besar.
Wah sepertinya aku telah kehilangan memori masa kecilku. Desa yang dulu tenang dan adem ayem, sekarang sedikit panas dan bising. Tak seindah dulu lagi. Untunglah sawah-sawah masih menghijau. Jadi keindahannya masih membekas walau sedikit. Desaku yang dulu telah hilang….












Gimana ya agar desa tetap maju tetapi tetap dengan ciri khas desa yang adem ayem?
DI SUATU PAGI
pertama kudatang, tanah ini masih
menyisakan keharuman tubuh perempuan
di tempat-tempat pemandian
di sungai kecil
yg masih saja mengalirkan bening
air sepanjang peradaban
pertama kudatang dan menetap
simpang ini masih sepi
masih bisa menghitung dua tiga teriakan
dan deru lalu-lalang
di bebatuan berserakan
sepanjang perjalanan
dan ini pagi, tiada lagi sepi
kecuali tebaran asap dari kota mati
meninggalkan kesunyian seorang pengembara
pada beton dan tiang-tiang sepanjang jalan
serta tak lagi menyisakan nyanyian pagi
dan wanginya tubuh perempuan
sebab sungai di belakang telah kering
bercampur amis dan tubuh-tubuh
tanpa nyawa
Padang, 1994
Tentang sesuatu yg hilang, saya lukiskan pada puisi (dimuat di Republika, 1994) dg perbandingan 4 tahun sebelumnya. Banyak yg berubah, keasrian, keindahan, dan alam yg natural hilang, dan saya merasa sendiri di keriuhan.
Ok, sungguh cerita kenangan yg memilukan